Persiapan Ramadhan
August 1st, 2010
I returned to the bosom of the motherland
August 1st, 2010
kendaraan pengganti kaki..
July 30th, 2010Cintaku
July 30th, 2010
Cintaku adalah tetesan air
yang menyuburkannya indah mewangi
dalam keheningan
Cintaku adalah doa diam-diam
yang terucap di malam syahdu
dengan airmata yang mengalir lembut
dalam keheningan
Catatan dari FreSh Wimax/4G
July 29th, 2010Rabu malam (28/Jul) itu tadinya akan digunakan untuk bersantai-santai di rumah kalau saja undangan itu tidak masuk. Ada event Re-FreSh-ment yang berlangsung di Graha Citra Caraka (Telkom Pusat) di Jl. Gatot Subroto, Jakarta. Topik yang diangkat adalah Wimax/4G; sebuah fenomena baru yang didengung-dengungkan akan mentranformasi layanan data & internet di Indonesia. Tergelitik dengan topiknya, saya pun melangkahkan kaki ke sana. Maksud hati datang bersama-sama dengan rekan-rekan deBlogger, namun apa daya pada rontok satu per satu *lirik tajam*; akhirnya saya nekat masuk sendirian tanpa mengenal siapa pun di sana. Katanya sih banyak seleblog!! Tapi ya sebodo amat lah sama mereka, sama-sama makan nasi ini *senyum licik*.
Bagi yang belum mengenal apa itu FreSh (perhatikan cara penulisannya), FreSh adalah singkatan dari Freedom of Sharing. FreSh merupakan ajang diskusi, kumpul-kumpul, networking, sharing ilmu antara kita semua yang hidup dalam industri kreatif (definisi diambil dari situs ini). Secara real, FreSh mengadakan forum secara berkala membahas topik-topik menarik. Selain di Jakarta, FreSh juga diadakan di Surabaya dan diharapkan kota-kota lain akan mengadakan event serupa. Setelah sukses dengan event Social Media Day akhir Juni lalu, kali ini FreSh mengangkat topik Wimax/4G.
Kembali ke Gedung Telkom, acara FreSh molor dari rencana semula pukul 19.00. Ini menjadi catatan bagi penyelenggara acara serupa di masa mendatang agar menyesuaikan dengan jam kemacetan lalu lintas di Jakarta sehingga banyak orang dapat hadir tepat waktu. Ini adalah event FreSh pertama yang saya ikuti jadi saya tidak memiliki referensi pembanding dengan format acara sebelumnya. Namun pada event kali ini, dijadualkan tampil 4 orang pembicara yang akan membawakan presentasi masing-masing selama 20 menit. Mereka adalah Kuncoro Wastuwibowo (IEEE Indonesia), Herwinto Ch (Aktifmob), Arief H. Gunawan (IEEE Indonesia), dan Yasmina Haryono (User Experience Expert).
Sesi 1: Mobilicious Wimax 4G
Sesi pertama dibuka oleh Mas Kuncoro yang menjelaskan mengenai fenomena mobilicious wimax 4G yang mulai bersiap untuk ‘berlari’ di Indonesia. Sesi ini diawali dengan pertanyaan klasik tapi menggelitik: mana yang lebih dulu? Network atau application?! Jelaslah sebelum kita berbicara mengenai aplikasi dan perilaku pengguna, pertama-tama kita harus berbicara mengenai jaringan infrastrukturnya. Mas Kuncoro menjelaskan bahwa era 3G yang kita nikmati sekarang segera akan digantikan dengan era 4G yang salah satu indikatornya adalah kecepatan bergerak 100 Mbps from end-to-end dan 1 Gbps dalam keadaan diam. Mas Kun tampak menghindari penjelasan yang terlalu detail mengenai hal ini demi memberikan kesempatan pada pembicara berikutnya. Hanya satu hal yang penting dicatat yaitu bahwa akses internet yang sekarang secara dominan masih dilakukan dari PC atau laptop akan berubah seiring meningkatnya tuntutan akses internet secara mobile. Demi mengakomodasi kebutuhan ini, maka handheld devices pun akan berevolusi dari yang sekedar smart phones menjadi wise phones.
Sesi 2: Wimaximizing mobility
Sesi ini dibawakan oleh Herwinto Ch dari Aktifmob yang melanjutkan presentasi Mas Kun tentang pengembangan infrastruktur tadi. Kalimat pembuka Mas Herwinto adalah “I don’t care about Wimax, it’s Wimaximizing that matters.” Cukup masuk akal mengingat pembangunan jaringan akan sia-sia tanpa pengembangan konten yang maksimal. Presentasi dilanjutkan dengan pemaparan mengenai gejala-gejala perilaku masyarakat pada era 4G ini yaitu: convergence, ubiquitous, cloud computing, dan social community. Terus terang saya hanya sedikit memahami poin ini, namun saya paham bahwa gejala ini cukup menghadirkan kebutuhan akan jenis-jenis layanan data baru yang bersifat revolusioner. Aktifmob yang bekerja sama dengan Telkomsel membaca gejala-gejala ini dan mengembangkan layanan mobile data dan internetnya sesuai kebutuhan pasar. Sisa presentasi digunakan untuk mengiklankan berbagai inovasi yang telah dilakukan oleh Aktifmob. OK, next…
Sesi 3: It’s LTE time
Mas Arief H. Gunawan dari IEEE Indonesia menyoroti transformasi dunia seluler mulai dari 2G, 3G, hingga4G. Terus terang isi presentasi yang ini tidak banyak berbeda dari sesi pertama jadi tidak banyak yang saya catat. Mas Arief hanya menyoroti penamaan istilah menurut pasar yang sedikit berbeda dengan istilah teknologinya, seperti 2G yang dibahasakan sebagai GSM, HSDPA/HSUPA yang dikenal sebagai 3G, dan LTE yang merupakan evolusi dari HSPA namun dikenal oleh pasar dengan nama 4G; plus varian-varian lain dalam teknologi CDMA yang juga disebutkan sambil-lalu. Lalu disebut juga beberapa pencapaian Indonesia seperti pengguna FB terbesar kedua di dunia, tercepat di dunia dalam beradaptasi dengan mobile internet, model prabayar BB pertama di dunia, dsb.
Sesi 4: Participatory Panopticon
Call me a fool, tapi saya memang agak subjektif-positif dalam mengamati pembicara yang terakhir ini. Pertama-tama, meski Yasmina Haryono adalah orang Indonesia, ia lama tinggal di Jerman dan lebih fasih berbahasa Inggris daripada Bahasa Indonesia sehingga presentasinya 90% dilakukan dalam Bahasa Inggris. Kedua, tampak jelas bahwa presentasinya bukan hanya bersifat pemaparan melainkan online behavior evangelism; ada gairah yang luar biasa ketika ia membagikan pemikirannya. Yasmina menyebut dirinya interactivity designer, internet user researcher, dan beberapa identitas lain yang mencerminkan latar belakangnya sebagai world citizen. Presentasi dibuka dengan pernyataan bahwa kita sekarang hidup di masa-masa menarik, yakni participatory panopticon. Kita bukan lagi passive users melainkan sudah menjadi active agents. Komparasi sederhana pada kedua istilah ini saja sebenarnya sudah cukup mencerminkan apa yang ingin Yasmina katakan, yaitu bahwa kita berperan aktif dalam mengubah dunia. Pemikiran dan perilaku masyarakat berevolusi mengikuti model berikut: data – information – knowledge – wisdom. Porsi manusia sebagai agen perubahan aktif bertambah besar mengikuti urutan fase tersebut.
Pada bagian selanjutnya, Yasmina mulai menyoroti keunikan perilaku masyarakat Indonesia dalam berkomunikasi secara mobile dan juga di internet. Misalnya saja ada banyak orang tua di Indonesia membukakan akun FB untuk anak mereka yang masih berusia 2 tahun; sementara di Jerman, remaja berusia 13 tahun masih dilarang orang tuanya mempunyai akun FB dengan alasan belum cukup umur. Orang Indonesia ternyata mempunyai pengertian berbeda mengenai identitas online dan sejauh mana sebuah privasi dapat di-release ke dunia maya. Lalu disoroti juga perilaku transaksi finansial yang cenderung menghindari pembayaran online dan lebih memilih mentransfer via ATM. Karakter lainnya adalah price sensitive; kalau ada layanan gratis, buat apa menggunakan layanan berbayar?
Bagian terakhir presentasi ini justru seperti antiklimaks dari sesi-sesi sebelumnya. Yasmina justru mengajukan pertanyaan seberapa cepat sih kecepatan internet mau dibuat?! Apakah akan ada batas kecepatan teknologi dan siapa yang menetapkan batas itu?! Ingin secepat apa video streaming kita jalankan kalau toh kita tidak akan menggunakannya selama 24 jam. Lalu pesan singkat kepada para pembuat konten data: jangan mendesain semuanya; sesuaikan dengan kultur setempat. Akhirnya Yasmina menutup presentasinya dengan kalimat yang membuka pikiran saya: 4G/wimax will only be a bullet point in a marketer’s presentation. Maksudnya adalah: 4G/Wimax bukan segalanya.
Refleksi Akhir
Perkembangan teknologi berevolusi sedemikian cepatnya sehingga sebuah inovasi akan menjadi basi besok pagi oleh karena akan ada inovasi lain yang mengalahkannya. Teknologi yang berkembang akan semakin memudahkan pekerjaan manusia dan akan selalu disambut baik. Namun demikian, manusia tetap memiliki dua tangan, dua kaki, dua mata, satu mulut dan satu telinga. Kebutuhan dasar manusia akan hal-hal jasmani dan rohani sebenarnya tetap tidak berubah dan tidak akan pernah berubah. Teknologi yang revolusioner pada akhirnya akan ditinggalkan juga ketika kita kembali ke rumah di malam hari dan bertemu dengan orang-orang yang kita cintai. Dan ketika itu kita akan berkata: ini sudah cukup.
Re-FreSh-ment yang awalnya ogah-ogahan saya datangi, ternyata membuka kedua sisi otak saya. Siapkah Anda mengalami petualangan yang sama? Tunggu forum selanjutnya.
–
Tulisan ini juga saya posting di portal komunitas.
Curhat: Petaka itu beratnya 3 kg
July 28th, 2010Brapa jumlah tabung gas yang meledak hari ini? #Tebakskor 2 org pemenang yg beruntung akn mndapatkan tabung gas 3kg gratis (siap2 jd korban)
Status ini keluar dari seorang teman di FB beberapa hari lalu. Saya pikir tidak perlulah saya menceritakan lagi bencana yang menimpa saudara-saudara kita akhir-akhir ini yang berkaitan dengan tabung gas 3 kg yang disubsidi pemerintah itu. Pertanyaannya: mau sampai berapa orang korbannya?! *Maaf numpang marah*
Kalau dipikir-pikir, keputusan pemerintah mengkonversi minyak tanah ke gas LPG itu sama saja dengan mengirim bom ke rumah-rumah warga. Rumah saya di Bekasi juga salah satunya. Setiap kali saya melewati dapur saya selalu melirik tabung gas 3 kg itu dengan perasaan was-was dan tidak mendekati kompor kalau memang tidak perlu. Kekuatiran yang sama pastinya dirasakan oleh jutaan rumah tangga.

tabung gas 3 kg
Pemerintah dikabarkan sudah mengambil langkah-langkah untuk mengatasi masalah ini dengan cara mewajibkan setiap tabung gas yang beredar memiliki standar SNI; sebuah langkah sia-sia karena tabung gas bersertifikasi SNI juga tidak luput dari ledakan. Bahkan bahaya yang sama juga mengancam tabung gas 12 kg karena berita ledakan tabung gas 12 kg juga sudah mulai terdengar.
Bagaimana Pak SBY?
–
Sumber gambar di sini
Your Job is not Your Career
July 26th, 2010
Berawal ketika membaca tulisan blog Jerry Aurum, saya memutuskan untuk membeli buku ini impulsively hampir satu bulan yang lalu. Asumsi awal saya, buku ini akan seperti self-developing books lainnya: tebal, teoretis, dan banyak cerita berulang di dalamnya. Akan tetapi, tepat ketika membuka beberapa lembar pertama buku ini, asumsi itu gugur. Di halaman-halaman awal, buku ini seakan tidak peduli dengan pemborosan karena hanya menyertakan satu kalimat untuk menguatkan awal cerita.. THAT’s interesting.
Sesuai warna yang mendominasi lembaran buku setebal 160 halaman ini, yang sama sekali tak nampak setebal itu karena isinya yang ringan, Rene Suhardono membagi bukunya ke dalam tiga bagian utama:
- mempertanyakan ulang definisi pekerjaan, karir, dan hidup itu sendiri.
- membantu menemukan passion hidup (the strongest part).
- merevitalisasi pengertian values, kontribusi, dan pada akhirnya arti kebahagiaan hidup.
Buku ini memiliki magnet yang kuat untuk dinikmati lembar demi lembarnya. Penuh ilustrasi yang menggemaskan sekaligus mencerahkan dan yang terpenting tepat sasaran. Saya sendiri akhirnya mempertanyakan apakah saya benar-benar berada di jalur karir yang tepat setelah membaca buku ini.
Dulu yang menjadi entitas pengukuran jalur karir saya selalu dikaitkan dengan apa yang terbaik yang bisa saya lakukan. Sebut tiga contoh berikut ini:
- saya paling mahir mengerjakan soal-soal kimia, maka saya pernah bermimpi menjadi chemical engineer saat UMPTN.
- saya suka planning and research, maka saya tidak menolak bekerja sebagai purchasing officer di perusahaan pertama saya.
- saya selalu percaya saya dilahirkan untuk menjadi guru, maka saya berani ambil risiko menjadi guru tentor di sebuah sekolah meski dengan penghasilan yang tidak masuk di akal.
Pertanyaan yang kemudian diapungkan oleh ReneCC adalah apakah saya benar-benar menikmati pekerjaan-pekerjaan itu? Karena definisi passion sesungguhnya bukan hal-hal yang terbaik yang bisa kita lakukan, tetapi hal-hal yang paling kita nikmati ketika melakukannya. Dan setelah membaca buku ini, Rene berhasil menuntun saya untuk merangkai benang-benang merah antusiasme hidup saya.
Saya belum berani menggaransi I’ve already found my passion sebelum berkonsultasi dengan si empunya buku suatu saat kelak (my wish-list). Tetapi, tanpa ragu saya memasukkan buku ini sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca. A must read book!
Kampasiana Blogshop dan IIMS 2010
July 26th, 2010
Setelah mendapatkan pencerahan dari beberapa pembicara, kamipun disuruh membuat tulisan dengan mengambil situasi Indonesia International Motor Show yang kebetulan berada di gedung yang sama.Wuih...mobilnya keren-keren semua. Selain keren, ada mobil yang berbentuk unik atau ada mobil yang ramah lingkungan. Ada juga mobil buatan Indonesia yaitu Komodo. Kita patut berbangga karena mobil ini adalah hasil karya anak-anak ITS.


Pameran mobil mewah ini memang dikemas secara menarik dan menggoda. Dimana setiap stand mobil selalu ada SPG cantik dan seksi yang siap melayani.Tetapi yang paling saya suka, kemasan pemasaran mobil Hyundai dimana ada seorang wanita cantik bermain biola di samping mobil. Saya sendiri sampai terpana dengan permainan biolanya (apalagi yang cowok ya..). Dia tidak sendiri. Sang pebiola didampingi seorang DJ cantik yang mengalunkan musik riang. Sungguh, kemasan pemasaran yang menarik. Ini sesuai dengan segmen pasar menengah keatas yang dibidik sang produsen.
Dengan ramainya pengunjung di pameran ini, hal ini membuktikan bahwa masyarakat Indonesia sebenarnya masih memiliki daya beli yang cukup baik. Sehingga Indonesia masih merupakan target pasar yang dibidik produsen barang-barang mewah.

Hanya di Indonesia (1)
July 24th, 2010Cuaca di Depok siang itu panas terik. Suasana Jalan Margonda Raya yang ramai dengan pohon seadanya, ditambah lagi dengan perbaikan jalan yang seakan tiada habisnya itu membuat para pengguna jalan tidak betah berlama-lama di luar. Jadilah deretan mall di sana kecipratan rejeki dari para pengunjung yang sengaja ngadem di mall. Detos pun tak kalah ramai dengan pengunjung. Tidak jauh dari pintu masuk utama Detos, terdapat sebuah vending machine alias mesin minuman yang tampak biasa saja. Namun ketika kita mendekatinya, tampaklah sesuatu yang unik. Apakah itu?
Ya, mesin minuman ini ternyata selain tidak dijaga oleh penjual, ia tidak memerlukan uang tunai atau kartu debit/kredit untuk membayarnya. Lalu pakai apa bayarnya? Oh, rupanya minuman tersebut dapat kita bayar dengan menggunakan pulsa Telkomsel. Menarik sekali bukan?! Caranya gampang. Anda tinggal berdiri di depan minuman tersebut, lalu ikuti petunjuk yang tertera di depan mesinnya. Bagi pengguna Telkomsel, Anda tinggal menggunakan ponsel Anda dan mengetik *878*kode mesin#, lalu tekan tombol Yes/OK. Lalu akan muncul pesan konfirmasi yang harus Anda balas. Setelah itu tampilan layar di mesin akan menampilkan pesan bagi Anda untuk menekan kode minuman yang Anda pilih. Setelah Anda memasukkan kode minuman yang Anda inginkan, maka mesin itu akan mengeluarkan minuman Anda. Simple bukan?! Cocok bagi Anda yang sedang kehausan namun tidak memiliki uang receh untuk membeli minuman. Anda tinggal menggunakan pulsa ponsel Anda saja. Namun harga minumannya lumayan mahal juga, yaitu 6000 rupiah. Anggaplah itu sebagai biaya mendapatkan pengalaman unik. Hehehe.
Meski cara pembeliannya unik, bagi saya cara ini memiliki kelemahan. Pertama, tentu saja yang bisa menggunakannya hanyalah pelanggan Telkomsel, sehingga minumannya belum tentu cepat laku. Kedua, sistem keamanan transaksinya masih terdapat celah bagi penyalahgunaan. Misalnya kalau kita berdiri agak jauh dari mesin tersebut dan tidak tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya setelah mengirim SMS, maka orang yang kebetulan berada di dekat mesin tersebut dapat dengan mudah memencet tombol dan “mencopet” minuman kita.
Masih tentang mesin minuman yang sama. Sewaktu saya memasuki sebuah halte busway di Koridor I, saya melihat mesin minuman itu lagi. Karena waktu itu juga sedang panas-panasnya matahari di luar, saya pun tergerak untuk mendekati mesin itu sambil mengeluarkan ponsel saya; maksudnya ingin membayar dengan cara yang sama seperti di Detos. Namun tak disangka, metode pembayaran dengan pulsa tidak berlaku di sini. Saya mencari-cari tempat memasukkan uang tunai, tapi tidak ada juga. Yang ada hanyalah tempat memasukkan “tiket” untuk membeli minuman tersebut. Nah, dari mana saya mendapatkan tiket itu? Kebingungan itu terjawab ketika seorang mas-mas mendekati saya sambil berkata “Bapak perlu tiket? Silahkan beli di saya.” Oh, jadi mas-mas itu memang tugasnya duduk di samping mesin minuman tersebut lalu menjual tiket bagi yang ingin membeli minuman. Tiket tadi kemudian dimasukkan ke dalam mesin sebagai alat pembayaran. Errr, saya malah tambah bingung. Mesin minuman itu dimaksudkan untuk menghemat tenaga manusia, bukan? Lalu buat apa ada mesin kalau masih ada mas-mas yang menjual minuman tadi?! Sungguh ironis sekali dibandingkan dengan mesin minuman di mall sebelumnya. ^^
